[Indotrans] Wawancara TOP untuk W Magazine Korea edisi November 2013 Part I

tumblr_mur7re7wzy1qb2yato1_1280

Sebentar lagi november ^o^ bulan yang akan sangat menyenangkan dan TOP bakal sangat sibuk. Kenapa? Selain akan berulang tahun yang ke 26 tanggal 4 november nanti (umur korea 27), TOP bakal merilis film keduanya “Alumni” atau “The Commitment”. Sejak oktober ini sebenarnya juga udah mulai sangat sibuk buat promosi di majalah, events dan variety show (TOP bakal tampil di Running Man, yeaayyy). Nah, yang akan saya bagi kali in adalah wawancara terbaru TOP untuk Majalah W Korea untuk edisi bulan November. Karena lumayan panjang, maka saya putuskan untuk membagi wawancara ini jadi 2 part ajaa. Sip ya, happy reading πŸ˜€

Β 

Β 

RUNNING ON EMPTY

Interviewer(i) : aku dengar kamu baru kembali dari acara Festival Film Internasional Busan (BIFF) kemarin. pengalaman apa yang paling berkesan untukmu?
TOP(T) : itu adalah kali kedua aku menghadiri BIFF setelah sebelumnya untuk film “71 into the Fire”. aku seorang pemalu jadi sulit untuk berbaur dengan banyak orang jadi aku lebih memilih minum wine di hotel dan mengunjungi Bar. aku bertemu teman dekatku Lee Soo Hyuk disana, dan aku menyukai Busan karena pantainya. aku rasa tempat itu membuat getaran yang memberiku energi. itu benar-benar menyadarkanku bahwa aku telah memulai promosi filmku “Alumni/The Commitment” dan melihat reaksi orang-orang(yang positif) jadi aku merasa senang.
I : biasanya memerlukan beberapa bulan untuk merilis sebuah film setelah syuting, jadi beberapa aktor mengatakan bahwa rasanya mereka kembali melihat film tersebut setelah waktu yang lama.
T : Syuting selesai pada akhir Januari lalu. Sudah beberapa waktu berlalu sejak syuting terakhir, tapi keseluruhan film ada dalam kepalaku. aku tidak merasa aku kembali melihat film itu setelah melupakannya untuk sesaat. Untuk keluar dari karakter itu memerlukan beberapa waktu dan dia(karakter) itu berada dalam diriku untuk waktu yang lama seperti sebuah trauma. dalam jangka waktu yang lama, rasanya seperti sebuah karakter yang aku ciptakan selama hampir 1 tahun jadi aku seperti memantau jika aku melewatkan sesuatu saat aku film tersebut.
i : Bagaimana rasanya menyaksikan film yang sudah diedit pada layar?
T : film ini serius dan terkontrol jadi aku menyukainya.
i : aku sudah melihat trailer-nya dan tidak terlihat adegan dimana kamu bisa santai dan tertawa.
T : kamu akan melihatnya pada saat kamu menonton filmnya, memang tidak ada lelucon yang umum tapi ada beberapa humor disaat tidak terduga yang bisa membuatmu tertawa.
i : kamu pasti menjadi lebih penuh pertimbangan pada saat memilih film kedua-mu, dan alasan kamu memilih Alumni adalah?
T : aku seorang musisi dan tidak akan berubah menjadi seorang aktor, jadi bekerja untuk banyak film bukan prioritasku. Sebelumnya aku memang menantikan sebuah film yang bisa mendedikasikan masa mudaku dari usia 27 tahun(saat ini) dan emosiku untuk mengekspresikan cerita-cerita serius yang bisa terhubung dangan diriku dan pendapat pribadiku. jadi aku pikir karena itulah aku mengerjakan film kedua 3 tahun setelah film pertamaku. Setelah melihat skenarionya, aku merasa yakin aku bisa berperan dengan baik jadi aku memilihnya.
i : apa yang membuatmu yakin kau bisa melakukannya (berperan) dengan baik?
T : karena karakteristik dari karakternya, karakteristik dari film tersebut. dan menarik bahwa itu bukan karakter yang terlalu jelas. pada saat aku pertama kali memperoleh skenarionya, arahnya lebih kabur daripada detil. jika aku harus berakting berdasarkan apa yang sudah direncanakan pada skenario, maka aku tidak akan merasa tertarik (terhadap skenario tsb).
i : Apakah arahan akting dari sutradara Park HeungSoo juga seperti itu?
T : Dia (sutradara) adalah tipe yang membiarkan aku memutuskan banyak hal. Satu hal yang selalu aku tanyakan pada saat aktingku diawasi adalah apakah itu membosankan atau tidak. Aku berusaha membuat setiap adegan lebih tajam(jelas) dan bahkan aku ingin menunjukkan rasa yang berbeda untuk adegan yang biasa.
i : tidakkah itu menakutkan bahwa kamu adalah aktor yang belum memiliki banyak pengalaman? tidakkan akan lebih mudah bagimu mengikuti arahan atau bekerja sama dengan sutradara yang mengarahkanmu dengan kuat?
T : Aku adalah tipe yang tidak begitu suka untuk mengikuti arahan. Bahkan pada saat aku mengerjakan musik aku pikir akan lebih alami jika aku mngikuti kemana tubuhku ingin membawaku. Apakah itu akting atau musik, aku rasa tidak menyenangkan untuk mencari tahu sebuah jawaban sesuai dengan buku(petunjuk).

tumblr_muuh55sSuL1qb2yato1_r1_1280
i : Aku rasa ada kesamaan antara karaktermu di “71 into the Fire” dengan “Alumni”. Keduanya remaja dan mereka harus mengorbankan diri mereka untuk negara atau keluarganya.
T : satu-satunya kesamaan (antara kedua film tsb) adalah keduanya adalah remaja. Itu karena aku terobsesi dengan peran remaja…*tertawa*
i : kenapa?
T : aku ingin berperan sebagai remaja selagi aku bisa. Dan pada saat aku berusia 30an, aku ingin berperan sebagai karakter yang berusia 20an tahun *tertawa*
i : Bukannya itu tergantung dari bagaimana seorang aktor melakukannya? Han Yeri, yang juga bermain di filmmu, berusia 30 tahun dan sangat berhasil berperan sebagai anak sekolah.
T : Yeri noona(kakak) memilki wajah yang sangat muda(baby face), aku rasa aku masih memiliki hati seperti Peter Pan. Aku menyukai film-film yang menunjukkan sisi polos dan murni dari seorang remaja daripada peran dewasa. Jika membandingkan perbedaan dari kedua karakter, pada “71 into the Fire”, aku adalah seseorang yang matang yang memiliki keyakinan yang kuat tapi di “Alumni”, Lee Myunhoon(nama karakter yang diperankan) hidup dalam dua dunia. Di pagi hari, Ia menyamar sebagai murid SMA dan pergi ke sekolah tapi di malam hari Ia adalah seorang pembunuh berdarah dingin. Takdir dua sisi dari karakter itu sangat menarik bagiku. Jika aku berakting dengan terlalu ekspresif, itu akan menjadi film fiksi, jadi aku mencoba mengekspresikan karakterku dengan cara yang sederhana tapi dalam. Hal-hal seperti itu sulit tapi menyenangkan.
i : Saat aku melihat sinopsisnya, itu mengingatkanku pada beberapa karakter lain. Wonbin di film “The Man from Nowhere” dan Kang Dongwon di film “Secret Reunion”.
T : Karakter mereka sama sekali berbeda dengan karakterku. Topik dan genre nya mungkin memiliki beberapa kesamaan. Anak muda yang dikirim dari Korea Utara mungkin sama dengan “Secret Reunion” dan adegan laga yang mencoba menyelamatkan seorang gadis sama dengan “The Man from Nowhere”. Tapi jika kamu berpikir demikian, kamu akan membuat hubungan-hubungan yang tidak ada habisnya. Bahkan mungkin kamu akan menyamakannya dengan “Taken”. Dalam film dengan topik, genre dan setting yang sama, penonton yang akan mengevaluasi bagaimana ceritanya berubah dan bagaimana Sutradara menghasilkan ceritanya. Aku mencoba sedikit mengubah karakteristik dari karakterku dan aku ingin menunjukkan sebuah karakter yang terlalu ‘korea selatan’. Aku memilih sendiri kostum dan memperhatikan hingga ke detil terkecil.
i : Saat aku menonton trailernya, kamu terlihat seperti karakter di film Hong Kong. Muda, indah tapi rapuh/ringkih dan tragis/muram.
T : Aku menyukai kerapuhan(perasaan tidak aman) dan tragedi. Tentara pelajar di “71 into the Fire” juga seperti itu. Karakterku di film ini juga membuatku tertarik karena hal itu. Aku terkadang menikmati perasaan tidak aman dan aku rasa itu adalah sesuatu yang powerful jika kamu bisa membuat orang yang menontonmu merasakan hal yang sama. Dan aku pikir aku memiliki banyak emosi sejenis dalam diriku.
i : Kerapuhan itu bisa dilihat di matamu.
T : Sejak film ini dimulai, aku berusaha memulai ekspresi dari seorang remaja yang berada dalam jurang keputus asaan. Jadi sangat sulit dan menyakitkan bagiku secara emosional.
i : Kamu mengatakan bahwa untuk keluar dari karakter di film dengan adegan-adegan intens dan emosional itu sulit dan banyak aktor lainnya mengatakan hal yang sama.
T : Aku tiba-tiba menjadi malas setelah syuting berakhir, jadi sejak Januari hingga May tahun ini aku hanya berbaring di ranjang dan tidak melakukan apapun. Selama syuting film ini, aku juga harus melakukan tur dunia bersama Bigbang dan jadwalnya membunuhku. Aku melakukan syuting film dari senin sampai kamis, terjaga sepanjang malam dan kemudian hari Jum’at, Sabtu dan Minggu aku harus ke luar negeri untuk konser dan tidur di pesawat lalu kembali ke jadwal lagi. Aku rasa secara mental aku bingung dan identitasku goyah pada saat itu. Di pagi hari aku melakukan adegan-adegan pembunuhan dan melihat darah, lalu di akhir pekan aku harus memberikan penampilan yang kuat dihadapan ribuan orang. Kemegahan panggung, dan situasi jatuh ke dalam lubang terdalam pada film berseberangan dan itu sangat membuat frustrasi, dan aku menjadi sensitif. Dan pada saat tur dunia dan syuting film berakhir di waktu yang bersamaan, aku tidak bisa melakukan apapun setelahnya. Aku hanya berhenti (istirahat) dan duduk untuk sesaat.
i : Apakah waktu membantumu kembali hidup normal?
T : Aku istirahat total selama 4-5 bulan dan merasa seperti akan hancur jika terus seperti ini. Saat itu adalah waktu untuk menyiapkan ALBUM SOLO tapi aku tidak bisa memikirkan dan melakukan apapun sama sekali. Secara perlahan aku memaksa diriku untuk pergi keluar dan makan dengan orang-orang di akhir pekan dan itu adalah awal kebangkitanku kembali. Pada saat itu, aku bisa merasakan bahwa sebelumnya aku berubah menjadi orang yang anti sosial.
i : Saat orang-orang mendengar bahwa seorang penyanyi berakting dan bernyanyi, mereka tidak terlalu berpikir bahwa semua itu adalah hal yang sulit.
T : salah satu alasan kenapa aku tidak sering tampil di acara TV atau merilis banyak lagu pada satu waktu adalah karena aku adalah orang yang harus fokus hanya pada satu hal yang sedang kukerjakan. Ketika aku mengerjakan sesuatu, aku bekerja dengan sangat keras dan mendedikasikan segalanya. Karena itulah setelah melakukannya, aku seperti kehabisan energi. Ketika seseorang benar-benar kehabisan tenaga/energi, aku rasa tidak ada dari pekerjaannya apakah itu musik atau film akan berenergi, jadi tidak ada gunanya bekerja pada kondisi seperti itu. Aku rasa kita harus istirahat disaat-saat seperti ini dan karena itulah aku mengevaluasi diriku dengan sangat ketat.
i : Karena itu adalah pekerjaan yang menunjukkan dirimu sendiri. Tapi kamu tidak bisa hanya terus berbaring di tempat tidur selama 4-5 bulan setiap kamu selesai syuting film *tertawa*. Kamu harus mengubah caranya jika kamu melanjutkan bekerja sebagai penyanyi dan aktor atau setidaknya menyusun jadwal.
T : Bahkan pada saat Bigbang sedang istirahat dan aku punya waktu untuk syuting film, aku tidak bisa melakukannya kecuali jika aku menyukai film tersebut. Jadi aku harus pasrah pada takdir dan menunggu. Sejujurnya, aku adalah tipe orang yang berbahaya. Ketika aku memustuskan sesuatu, aku melakukannya berdasarkan instingku. ‘Ayo pilih jalur ini karena ini yang yang kubutuhkan saat ini’, aku tidak menganalisa dan berpikir dengan cara seperti itu.
i : Daripada menggunakan kepalamu, apakah kamu melangkah berdasarkan hatimu?
T : Aku melangkah berdasarkan perasaan dan instingku.
I : Aku rasa GD adalah tipe yang menggunakan kepalanya.
T : Jiyong melakukan banyak hal secara acak/sesukanya *tertawa*
I : Dari wawancara yang lalu, kamu mengatakan bahwa kamu tidak menyukai image “National Little Brother”
T : Aku bahkan tidak bisa dipanggil begitu tapi aku berani mengatakannya *tertawa* . Aku pikir karakter di film ini sangat unik. Karena ini adalah film tentang identitas(karakter)nya, penonton akan merasa gugup menontonnya, untuk menyaksikan apakah karakter ini membuat keputusan yang tepat atau tidak daripada mencintai karakter ini. Karena karakterku adalah seseorang yang mengalami krisis identitas, itu membuatku jadi sensitif juga. Setelah syuting film selesai dan saat member Bigbang makan bersama, mereka akhirnya mengatakan padaku. Bahwa aku sangat sensitif hingga mereka bahkan tidak berani bicara/berbincang denganku.
i : kamu mengatakan hal yang sama ketika wawancara setelah “71 into the Fire”
T : ah, benarkah? aku rasa aku jadi sensitif karena aku harus menyaksikan kematian seseorang sepanjang waktu. Karena…..aku sebenarnya sangat lembut *tertawa*
i : Aku kira secara mental itu tidak nyaman untuk syuting film dengan topik yang berat dan dalam.
T : akan lebih mudah jika aku berpikir itu seperti ‘itu tidak nyata’ atau ‘itu hanya seperti sebuah permainan’ tapi pada saat itu aku tidak benar-benar bisa berpikir begitu. Aku rasa aku jadi benar-benar masuk kedalamnya karena aku terus berpikir bahwa aku harus melangkah lebih jauh ke dalam karakter ini.
i : Tapi, kamu selalu memilih mengerjakan film-film dengan genre sulit seperti itu.
T : Orang-orang yang menikmati rasa sakit itu akan terus melakukannya. Hal itu sama dengan musik. Jika aku menunjukkan sesuatu yang hardcore di atas panggung, akan sangat melelahkan ketika aku turun dari panggung. itu seperti mengeluarkan seluruh tenagamu di hadapan orang-orang. Tapi itulah satu-satunya cara agar orang-orang merasakan karisma dan energimu. Setelah itu aku merasa kehabisan tenaga tapi aku menikmatinya jadi aku terus melakukannya.

tumblr_muuh55sSuL1qb2yato2_r1_1280
i : kenapa kamu sangat berjuang dalam hidupmu?
T : Supaya aku bisa mencapai nirwana dan hidup dengan nyaman saat aku tua *tertawa*
i : Menurutku semua penyanyi yang tampil punya sisi ini, tapi kamu sepertinya beraksi sebagai karakter ‘TOP’ di atas panggung. Tidakkah sulit menunjukkan ‘TOP’ daripada dirimu sendiri?
T : Aku mencoba melakukannya. Menurutku aku harus melakukannya. Orang-orang akan cepat bosan jika aku menunjukkan terlalu banyak dari sisi diriku yang sebenarnya. Jadi aku selalu berpikir untuk berubah dan menunjukkan ‘TOP’ yang lebih baik. Itu seperti sebuah strategi.
i : Disaat-saat sulit untuk mendekati Bintang melalui media, orang-orang menyukai nya, tapi akhir-akhir ini tidakkah menurutmu orang lebih suka pada selebritis yang ramah?
T : menurutku malah sebaliknya. Kecenderungan (sebelumnya) akan kembali. Apalagi negara kita sangat kecil, publik akan bosan dengan selebritis yang muncul terlalu sering. Menjadi seorang selebriti itu seperti memiliki pacar. Bukannya kamu akan capek/bosan dengan seseorang setelah bertemu dengannya terlalu sering dan terlalu lama? Jadi aku akan bersembunyi dan muncul disaat yang tepat. daripada menunjukkan sesuatu yang tidak lengkap dan canggung, aku berusaha untuk menunjukkan sesuatu yang benar-benar baru.
i : Kamu pasti sangat keras dengan dirimu sendiri.
T : Menurutku cara selebritis bekerja sama dengan caranya mencintai. Disaat aku sedang berpacaran dengan seseorang sekalipun, aku selalu menjaga jarak beberapa tingkat. Aku selalu berbicara dengan sopan dan tidak sering bertemu.
i : Tapi apa menurutmu itu lebih baik untuk mempertahankan hubungan?
T : Aku takut kalau pacarku akan bosan padaku.
i : Apa sebuah hubungan akan bertahan lebih lama jika kamu menjaga jarak?
T : Aku tidak punya banyak pengalaman jadi aku aku juga tidak tahu banyak tapi itu akan menghindarkanmu dari pertengkaran. Jika kamu terlalu dekat, maka kamu akan lebih sering bertengkar. Sama seperti kamu mengatakan hal-hal yang akan membuat salah paham ketika kamu terlalu banyak bicara.

to be continued…..

English translation by @BIGBANGisVIP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s